Ahra POV

Percaya padaku, kisah-kisah dongeng dengan ending happily ever after itu bohong! Yah sebuah pengecualian bila ending ceritanya seorang yang baik-baik yang di jamin masuk surga. Oh, tentu saja dia akan happily ever after, di surga. Sekarang aku tahu mengapa bebarapa novel roman percintaan yang pernah kubaca memilih mengakhiri ceritanya saat atau setelah tokoh utamanya menikah. Dan mengapa jarang sekali ada sequel? Karena masalah yang di hadapi setelah pernikahan bisa jadi melebihi masalah yang dihadapi sebelum menikah. Atau mungkin masalah yang di hadapi sebelum menikah dan setelah menikah itu memang lebih besar masalah sebelum menikah sehingga harus diangkat. Sementara masalah setelah menikah masih remeh-remeh tapi cukup untuk membuat 6 sekuel saking banyaknya masalah yang remeh-remeh itu. Okay, mungkin itu hanya analisaku. Pada kenyataannya menyatukan dua insan dalam suatu ikatan yang disebut pernikahan itu memang tidak mudah.  Pantas saja banyak yang lebih memilih single seumur hidup daripada harus menikah. Jangankan dua kepala manusia yang dari jenis kelamin yang berbeda, bahkan 2 orang yang kembar siam pun, pasti memiliki masalah dalam siklus hidup mereka. Apalagi pasangan suami istri yang jelas-jelas berbeda dari segi jenis kelamin, pemikiran, latar belakang, bla bla bla bla. Suami istri yang berpacaran bertahun-tahun sebelumnya pun bukan berarti lepas dari masalah, apalagi suami istri macam aku dan Eunhyuk yang jelas-jelas menikah secara ajaib.

Baiklah sekarang aku sedang bermasalah. Dengan siapa? Hyukjae tentu saja! Astaga! Pria itu! omo! aku pusing! Aku kesal! Aku sebal padanya! Bagaimana ada pria yang begitu menyebalkan seperti dia huh?!Lupakan semua kemampuan merayunya yang kadang—okay sering—membuatku meleleh. Selebihnya dia menyebalkan.

“Yeobo! Kenapa kau tidak membangunkanku? Aku ada rapat jam 9!” teriaknya dari dalam kamar kami, sementara aku sedang sibuk menenangkan Ji Hoon yang baru saja terbangun dan menangis menambah ramai keadaan rumah yang baru kami tempati 2 minggu ini. Jiyeon sudah duduk manis di ruang makan menunggu sarapannya yang sedang di siapkan oleh Min Jung, pembantu kami.

Ji Hoon sudah mulai tenang dalam gendonganku, aku menyiapkan bekal makan siang Jiyeon sambil menggendong Ji Hoon.

“Min Jung-a, tolong siapkan air dan pakaian ganti untuk Ji Hoon.” Ujarku pada Min Jung yang kemudian mengangguk dan menjauh dari kami, melaksanakan tugasnya.

“Eomma, aku tidak mau sayuran ini!” protes gadis kecil itu menyingkirkan beberapa sayuran yang ada di hadapannya. Aku menghampirinya sambil membawakan bekal makan siang yang sudah selesai kusiapkan.

Aah, anak itu sudha tertular dengan Kyuhyun rupanya.

“Jangan begitu sayang, sayuran baik untuk tubuhmu, ehm,” ujarku meletakan sayuran yang ia singkirkan di mangkuknya.

“Aku tidak suka,” ujarnya sambil menutup mulutnya dan menggeleng  cepat.

“Kata Paman Kyuhyun kalau memakan sayuran hijau nanti kotoranku bisa berwarna hijau juga,” ucapnya polos.

Cho Kyuhyun!! Awas kau!! Aku menghela nafas kesal. Dasar bocah nakal, sudah setua itu masih mempengaruhi anak kecil yang tidak-tidak. Ah iya, aku ingat, beberapa minggu yang lalu sebelum Min Jung mulai bekerja, aku sempat menitipkan Jiyeon di rumah orangtuaku, dan tentu saja Kyuhyun masih menjadi penghuni disana. Mungkin saja di amempengaruhi Jiyeon disana. Ish, dasar bocah itu!

“Aniya, itu tidak benar, sayang. Paman Kyuhyun hanya sedang mengerjaimu,”

Jiyeon menatapku polos, ia kemudian kembali menatap sayuran yang ada di mangkuknya.

“Jinjja?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk pasti.

“Yeobo! Asih, kenapa kau tidak membangunkanku?” ujar Eunhyuk tiba-tiba muncul dari arah belakang, mencium pipiku, pipi Ji Hoon, pipi Ji yeon, kemudian menyerobot susu di atas meja yang kusiapkan untuknya. Min Jung datang dan kuserahkan padanya untuk memandikan Ji Hoon, sementara aku mengurus Eunhyuk yang masih tampak berantakan, lihatlah dasinya yang sama sekali tidak rapi. Aneh, sudah berapa tahun dia mengenakan dasi, kenapa tetap tidak bisa rapi?

“Aku sudah membangunkanmu sejak tadi, kau saja yang tidak dengar!”ujarku sambil membenarkan letak dasinya.

“Jinjja? Euh, mungkin aku kelelahan karna permainan kita semalam,” bisiknya menggodaku, aish! Pria ini!

“Jangan cari alasan,” balasku masih berbisik. Kulirik Jiyeon masih sibuk dengan makanannya.

“Siapa suruh kau menggodaku semalam?”

Aku menginjak kakinya, ia meringis pelan tapi tetap tersenyum jahil.

“Siapa yang menggodamu? Hah? Kau sendiri yang…”aku kembali melirik Jiyeon, ish, ingin rasanya kulakukan KDRT kalau sudah bersama dengan Eunhyuk begini. Dia masih menatapku dengan tatapan menggoda, tatapan yang tak pernah berubah sejak kami menikah. Kalau sudah begini, kadang aku sendiri yang luluh.

Dia tersenyum miring sebelum akhirnya ia menciumku. Aku segera mendorong dadanya. Aish, kenapa melakukannya di depan Jiyeon? Buru-buru aku menoleh ke arah Jiyeon yang ternyata sedang cekikikan sambil menutup kedua matanya. Eunhyuk tertawa lepas kemudian bergerak mencium dahiku sekilas dan duduk di meja makan. Sarapan.

***

Eunhyuk POV

Aku bergegas pulang ketika hari sudah mulai gelap. Kantor sudah mulai sepi, aku keluar ruangan dan mendapati  Jung Jin Goo, sekretarisku juga sedang bersiap pulang.

“Eo, kau belum pulang Jin Goo-ya?”

“Ah, Ne! Huijangnim.” Ucapnya membungkuk sopan. Jin Goo ini adalah sekretaris baru ku. Baru 3 bulan dia bekerja disini, dan aku senang dengan pekerjaan. Ish,ngomong-ngomong tentang sekretaris, aku jadi teringat pada Kim Hye Jin yang sudah di culik Donghae menjadi istrinya. Sebenarnya aku lebih suka jika Hye Jin yang menjadi sekretarisku, selain pintar dan cekatan, bisa dijadikan vitamin mata juga, hehehehe. Bukan! Bukan berarti aku menaksirnya, ish aku bukan pria gila yang menaksir istri dari sepupuku sendiri. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Mempunyai sekretaris pria juga tak terlalu buruk. Tapi mempunyai sekretaris pria itu seperti melihat diri sendiri. Sama-sama pria. Apa bagusnya? Belum lagi kalau ternyata sekretaris kita itu mempunyai tampang yang lebih di atas rata-rata di banding kita sebagai bossnya. Aku jadi teringat  Choi Eun Gi, sekretarisku sebelum Jin Goo. Ish, si flower boy itu. Dia memang pintar tapi tampangnya yang melebihi ketampanan para member boyband korea itu mmebuatku sedikit gusar, akhirnya aku memutuskan untuk memindahkannya di divisi lain, hehehehe. Aku heran, dengan tampang tampan di atas rata-rata itu kenapa tidak ia dedikasikan untuk jadi artis saja sih?

Dan beginilah, sekarang sekretarisku adalah Jung Jin Goo, seorang pria lajang berusia 25 tahun yang cemerlang. Tampangnya biasa saja, tapi dia pintar, cekatan, dan sopan.

“Kau pulang naik apa?” tanyaku saat kami sama-sama berjalan menuju lift.

“Eoh? Saya naik bus,” jawabnya.

“Pulang saja bersamaku. Kita searah, kan?”ujarku menawarkan, lumayan juga ada teman menyetir, lebih tepatnya nanti dia yang akan kujadikan supir, hahahaha.

“Ne? Khamsahabnida Huijangnim,” ujarnya lalu membungkuk lagi. Kami sama-sama memasuki lift yang membawa kami menuju tempat parkir.

“Ehm, Huijangnim,”

“Hm,”

“Sore tadi, Sekretaris Han mengabarkanku bahwa Presdir menghendaki anda untuk menghadiri rapat dengan Kubota Corp, kamis ini.”

“Kubota? Perusahaan Jepang itu?”

“Presdir pagi tadi telah berangkat ke London, dan undangan dari perusahaan itu baru sampai, jadi Presidr menunjuk anda sebagai delegasinya.”

“Ehm, kau atur saja.” Jawabku kemudian. Ah, undangan mendadak, pantas Ayah tak mengatakan apa-apa padaku.

30 menit kemudian aku sampai di Rumah, diantar oleh Jin Goo, dan dia kuperintahkan membawa mobilku. Hahaha, ini salah satu poin positif dia sebagai sekretarisku, bisa sekalian kujadikan supir, hehehehe.

Jiyeon sedang sibuk mengerjakan PRnya sementara Ahra disebelahnya sibuk bermain dengan Ji Hoon. Aku langsung menuju ke kamar setelah menyapa mereka. Ahra mengikutiku ke kamar.

“Lee Hyuk Jae! Sudah berapa kali ku katakan, jangan letakan celana kotormu di sembarang tempat!” omelnya ketika aku sedang mencuci muka di wastafel dalam kamar mandi. Aku hanya meringis. Omelan yang hampir sama setiap hari dengan kalimat yang hampir sama pula. Bahkan cenderung sama.

“Lee Hyuk Jae! Kenapa celanamu ada disini?”

“Lee Hyukjae, letakan celana kotormu ini di tempat cucian kotor!”

Lee Hyukjae! Syalalalalala! Aku bukannya tak mau mendengarkan istri tercintaku itu, terkadang aku juga melakukan apa yang dia mau. Membuang celana pada tempatnya? Tentu saja! Di lantai, saat kita sedang bercinta hahahahaha.

“Sudah berapa kali ku katakan, letakan celanamu di keranjang cucian kotor. Dan jangan lupa ambil belt serta dompetmu, jangan turut di letakkan di keranjang cucian,” nasehatnya yang bahkan sudah ku hapal liriknya jika itu sebuah lagu. Aku hanya meringis. Ia menatapku sebal. Kemeja dan celanaku yang tadi kuletakan sembarangan di ranjang kami sudah tidak ada. Ahra pasti sudah meletakkan di tempat yang benar. Keranjang cucian kotor.

“Aku kan hanya mau mempermudah saja, siapa tahu suatu saat kau mau kita BDSM, jadi aku tidak perlu repot-repot mengambilnya ke keranjang cucian,” sahutku terkikik geli sambil memilih kaos santai di lemari.

Plak!

Sesuatu menggeplak bahuku dari belakang. Ternyata Ahra yang memukulku dengan handuk yang baru saja kupakai untuk mengeringkan wajahku.

“Dan letakkan handuk pada tempatnya juga!” omelnya lagi lalu meletakkan handuk itu di tempatnya.

Aku buru-buru memakai kaus dan celana trainingku dan menjajari langkahnya.

“Tapi hati dan cintaku sudah kuletakkan di tempat yang benar, kan?” ujarku mengerling padanya. Dia masih menatapku ganas.

“Ayo kita makan, Yeobo!” sahutku lagi kemudian meninggalkannya yang masih terlihat marah. Ah sudahlah, nanti juga hilang, apalagi setelah aku merayunya, ahaaaaayy.

***

Ahra POV

Lihatlah betapa menyebalkannya dia. Ish, apa semua laki-laki seperti itu? apa aku harus mengomel setiap hari agar dia sedikit lebih teratur? Meletakkan pakaian kotor di tempatnya, meletakkan handuk di tempatnya, tidak mengacak-acak lemari pakaian kami, bahkan hal-hal sederhana seperti itu saja dia tidak mau melakukannya. Ugh! Rasanya ingin aku membantingnya. Aku tahu dia lelah setelah bekerja seharian, bahkan ketika sampai rumah pun ia masih harus mengajak Ji Hoon bermain atau mengajari Jiyeon belajar. Tapi bukan berarti dia tidak bisa melakukan itu semua kan?

Aku menyusulnya ke ruang makan. Kami makan malam dengan diam, hanya beberapa kali rengekan Ji Hoon yang sudah mengantuk. Anak itu selalu merajuk ketika sudah mengantuk. Aku menenangkan Ji Hoon sampai tertidur sedang Eunhyuk terdengar sedang berdebat kecil dengan Jiyeon.

Ah, anak itu sudah mulai kritis. Aku dan Eunhyuk kadang-kadang dibuat kelimpungan saat ia mulai bertanya hal yang aneh2, seperti ,bagaimana bisa adiknya—Ji Hoon—ini bisa keluar dari perutku? Apa ia –Jiyeon—dulu juga seperti itu? lalu bagaimana bisa ada adik bayi? Mengapa ini mengapa itu?

Aku dan Hyukjae hanya bisa memberi jawaban sederhana yang kadang kami sendiri perlu berpikir keras untuk memberi jawaban pada Jiyeon.

Setelah Ji Hoon tidur, aku bergegas  mengambil pekerjaan yang belum kuselesaikan. Aku harus menyelesaikan desain ini segera. Agar aku bisa mengajak Jiyeon liburan dengan tenang. Minggu ini Jiyeon memasuki masa liburan, dan kami sudah berjanji mengajaknya liburan ke Jeju.

Aku menggambar di dekat Jiyeon dan Eunhyuk, aku agak khawatir kalau mereka ditinggal berdua, apalagi saat belajar. Eunhyuk terkadang kurang waras dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan Jiyeon. Pernah waktu itu ia sedang menonton acara sepak bola kesayangannya. Jiyeon yang sedang belajar di dekatnya bertanya tentang nama-nama tokoh nasional dan Eunhyuk malah menjawabnya dengan nama-nama pemain bola kesayangannya. Nilai tugas Jiyeon jelek, dan dia menangis seharian karena hal itu.

Jam 12 malam aku baru menyelesaikan pekerjaanku. Keadaan rumah sudah sepi. Jiyeon sudah tertidur sejak tadi. Min Jung juga sudah terlelap. Sementara Eunhyuk sudah masuk kamar sejak satu jam yang lalu, mungkin sudah tidur.

Aku membasuh wajahku dan menggosok gigiku sebelum tidur. Kulihat Eunhyuk sedang asyik dengan gadgetnya. Oh, kukira sudah tidur. aku sedang malas menyapanya. Aku ingin melancarkan aksi marahku. Aku ingin memberinya sedikit pelajaran.

“Sudah selesai?” tanyanya.

“Hm,” jawabku singkat lalu beringsut tidur disampingnya, menarik selimutku sampai dagu dan membelakanginya.

Aku baru saja memejamkan mataku saat kurasakan tangannya bergerilya di pinggangku dan hembusan nafasnya terasa kental di leherku. Tahan Ahra! Tahan! Ia makin melancarkan aksinya saat aku diam saja.

“Aku lelah,” ujarku menyingkirkan tangannya.

“Benarkah?” tanyanya masih menggodaku.

“Aku lelah Lee Hyuk Jae!” aku kembali menyentakkan tangannya. Aku memang sedang lelah, seharian tadi aku cukup sibuk di butik, ditambah lagi aku masih kesal dengannya, dan apa-apaan, bukankah baru semalam kami melakukannya?

“Eum..okay, kita bisa melakukannya besok pagi setelah bangun tidur,” ujarnya menyerah. Apa? Besok? Aish, aku paling tidak tahan berlama-lama melakukan aksi diam sebagai bentuk marahku padanya, kenapa? Bukan karna aku terlalu mencintainya, tapi tentu saja dia terlalu bodoh untuk mengetahui bahwa aku ini sedang merajuk. Lihat saja caranya memperlakukanku, seolah kami tidak ada apa-apa, seolah dia tidak tahu –atau memang benar-benar tidak tahu—bahwa aku sedang merajuk.

Dengan cepat aku membalikkan badanku, menghadap ke arahnya.

“Eoh? Mwoya? Kau mau sekarang? Baiklah,” ujarnya tersenyum girang.

Pluk!

Aku menimpuknya dengan guling, yang tentu saja tidak sakit. Sebenarnya kalau boleh aku ingin menimpuknya dengan vas bunga nakas, tapi aku masih belum mau jadi janda.

“Waeyo?” tanyanya polos.

“Waeyo? Ish, Lee Hyukjae, kau ini benar-benar…”

Dia masih menatapku bingung, ish, benar kan dugaanku, ia tidak mengerti kalau aku marah.

“Eiy, kau benar-benar mau main BDSM ya? Bukan dengan guling, sayang…”

“Oh ya? Lalu dengan apa seharusnya? Kulkas? Hm?” ujarku ketus. Dia malah cengengesan. Menyebalkaaaaaaan.

Sudahlah, percuma menunggu dia mengetahui isi hatiku, tentu saja! Mana ada orang yang tau maksud kita kalau kita tidak mengungkapkannya.

“Lee Hyuk Jae-ssi…”

“Hm…wae, Yeobo?” tanyanya sok imut.

“Sepertinya kita perlu bicara,” ia menatapku polos,” tentang, ehm, ‘kegiatan kita’,”

Matanya mengerjap, ah dia pasti lebih tahu apa yang kumaksud dengan ‘kegiatan kita’.

“Eiy, itu bukan sesuatu yang perlu dibicarakan, tapi dilakukan,” ujarnya seirama dengan gerakan tangannya yang bersiap memelukku, tapi buru-buru aku menepisnya.

“Sepertinya kita perlu membuat jadwal untuk ‘kegiatan kita’ yang satu itu,”

Matanya melebar seketika,

“Mwo?”

Aku tak menjawab, tak berniat pula mengulangi pernyataanku itu, oh tentu saja itu hanya salah satu dari pengungkapanku, masih ada lagi yang harus kukatakan padanya.

“Apa yang kau maksud dengan ‘kegiatan kita’ dijadwal?” ia tampak syok dan tak terima.

“Ya! Kau pikir itu pelajaran sekolah harus di jadwal?”sahutnya lagi, jelas terlihat kesal. Tentu saja dia kesal, dia terbiasa semena-mena dan seenaknya. Baiklah, mungkin ini saatnya kami bicara, tentang hal-hal yang seharusnya ku katakana sejak kemarin-kemarin sejak merasakan ada sesuatu yang mengganjal dalam rumah tangga kami.

“Dengarkan aku, sepertinya kita memang perlu bicara,”

“Bukannya sejak tadi kita memang bicara? Dan sebaiknya kau jelaskan apa maksudmu dengan ‘jadwal’ tadi, Cho Ahra!” ia tampak geram dan kesal, tapi tetap mengatur volume suara kami, ini sudah tengah malam.

Aku menghembuskan nafas beratku, bermaksud menekan emosiku sendiri.

“Ya, kurasa kau akhir-akhir ini aneh. Hampir setiap malam kau memintanya sejak beberapa hari yang lalu,”

“Aneh? Apanya yang aneh? Aku menginginkan istriku sendiri, bukan istri orang lain.”

“Aku tahu! Tapi seharusnya kau juga memberikan jeda waktu. Sepertinya dulu tidak seperti ini. meskipun dulu juga tidak ada ‘jadwal’ tapi kau tidak sesering itu memintanya,”

“Wae? Kau keberatan? Huh?”

“Ya! Apa maksudmu?”

“Mungkin saja kau yang sudah bosan denganku!”

“Lee Hyukjae! Kau tahu maksudku tak seperti itu?”

“Lalu apa? Memangnya apa salahnya kita melakukannya setiap hari? Toh kita sudah suami istri.”

“Tapi bukan berarti kau melakukannya seenak kepalamu sendiri!”

“Mwo?”

“Ya! Kau selalu melakukan semuanya sesukamu sendiri. Kau masih seperti anak-anak Lee Hyukjae, kau bahkan sudah menjadi ayah dari 2 orang anak.”

“Anak-anak?”

“Iya! Kau bahkan tak pernah mendengarkan perkataanmu. Kebiasaanmu yang suka meletakkan pakaian kotormu sembarangan itu benar-benar menyebalkan. Belum lagi kebiasaan meletakkan handuk sembarangan setelah mandi, mengacak-acak pakaian di lemari. Tidak bisakah kau tidak melakukannya, huh? Kau senang membuatku setiap hari mengomelimu?” nafasku tersengal setelah mengungkapkan hampir semua uneg-unegku. Iya, hampir. Belum semuanya.

“Jadi hanya karna itu kau marah-marah? Hah?!”

“Hanya karna itu? cih, sudah kuduga kau hanya menganggapnya remeh.”

“Ya! Aku kan lelah seharian bekerja, apa aku juga harus memperhatikan hal-hal kecil seperti itu? lagipula ada kau!”

“Jadi kau hanya mengandalkanku? Kau tahu aku sudah lelah seharian bekerja dan mengurusi Jiyeon dan Ji Hoon.”

“Aku tidak memintamu untuk bekerja. Bahkan tanpa bekerjapun aku masih bisa menghidupimu.”

“Kau tahu ini bukan masalah menghidupi dan dihidupi, kau tahu butik itu impianku, karir yang ku rintis dari nol! Sampai akhirnya aku menikah denganmu..”

“Jadi kau menyesal menikah denganku? mengurus anak-anakku?”

Hah? Apa dia bilang? Menyesal? Dasar lelaki gila. Ku dengar suara rengekan Ji Hoon dari kamar sebelah. Aku masih menatapnya tajam. Sebaiknya aku menghentikan pertengakaran ini.

“Lee Hyuk Jae! Kau tahu benar bukan itu maksudku!” ujarku tajam, kemudian beranjak dari ranjang dan menuju kamar Ji Hoon.

***

Author  POV

Ini sudah hari ketiga sejak pertengkaran malam itu, Eun Hyuk dan Ahra tidak saling menyapa saat di rumah. Mereka bahkan tidak tidur dalam satu kamar. Ahra lebih sering tidur dengan Jiyeon. Meksipun ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Min Jung yang menyadari adanya ketidakberesan yang terjadi pada Ahra dan Eunhyuk memilih diam, sementara Jiyeon sudah mulai protes dengan keanehan kedua orangtuanya, tapi Ahra hanya mengatakan bahwa mereka sedang sama-sama lelah.

Malam itu Eunhyuk sendirian menyiapkan baju-bajunya ke dalam koper untuk keberangkatannya ke Osaka, besok. Ia bahkan tidak sempat mengatakannya pada Ahra. Ia menghembuskan nafas beratnya, ia merindukan istrinya, sangat. Tapi egonya menekannya untuk meminta maaf terlebih dahulu, lagipula Ahra yang meninggalkannya, harusnya ia yang kembali ke sini.

Ia melihat ke seluruh ruangan kamarnya, masih terbayang bagaimana ia menggoda Ahra, bagaimana Ahra mengomelinya, dan quality time mereka yang sering mereka habiskan di kamar tanpa gangguan dari anak-anak. Kembali terbayang pertengakarannya dengan Ahra malam itu, Ah, sepertinya dia sudah keterlaluan menanggapi semua protes Ahra malam itu.

Sementara itu, Ahra masih mengaduk-aduk susu hangatnya tanpa bersemangat di dapur. Ini sudah hari ketiga, dan ia tetap mendiamkan Eunhyuk, ah dia memang merindukan pria itu bahkan ketika mereka masih dalam satu rumah. Ahra memejamkan matanya, sepertinya ia yang terllau melebih-lebihkan masalah. Ia harus minta maaf? Cih, seharusnya Hyukjae yang melakukannya. Tapi, kalau ego keduanya terus-terusan mendominasi, maka mungkin sesuatu yang lebih buruk akan terjadi, setidaknya harus ada yang mengalah.

Ahra beranjak dari kursinya. Ia melihat tumpukan pakaian Eunhyuk yang baru selesai disetrika Min Jung.

“Itu pakaian Eunhyuk?”Tanya Ahra saat melihat Min Jung hendak mengantarkan pakaian bersih itu ke kamar Eunhyuk.

“Ne,” jawba Min Jung singkat.

“Biar aku yang mengantarnya,” ujar Ahra. Min Jung terlihat bingung, namun akhirnya menyerahkannya pada Ahra. Ia mengambilnya dan membawanya ke kaar Eunhyuk, mungkin ini bisa dijadikan alasan untuk mereka saling bicara selanjutnya.

Ahra langsung masuk ke dalam kamar saat Eunhyuk sedang sibuk mencari pakaiannya

“Min Jung-ah, kau melihat kemejaku yang berwarna biru?” Tanya Eunhyuk tetap focus pada isi lemari tanpa menoleh dan melihat bahwa yang memasuki kamarnya bukanlah Min Jung, melainkan Ahra.

“Kemeja itu kau tinggalkan di rumah Eomma saat kita menginap disana satu bulan yang lalu,” jawaban Ahra membuat Eunhyuk menoleh saat menyadari ada suara yang begitu ia rindukan yang sudah lama tidak ia dengar berbicara padanya.

“Ini, pakaian bersihmu,” ujar Ahra tampak canggung.

Eunhyuk juga tampak terlihat kikuk, ia hanya mengangguk dan membiarkan Ahra menyusun pakaiannya di lemari. Ahra menyadari sesuatu. Lemari mereka tetap rapi, tidak seperti biasanya.

“Kau mau kemana?” Tanya Ahra setelah selesai meletakan pakaian di lemari dan melihat koper Eunhyuk tergeletak  begitu saja di lantai, dalam keadaan terbuka dan beberapa pakaian ada di dalamnya.

“Eoh? Ehm…besok aku harus ke Jepang.” Jawab Eunhyuk. Ahra menatapnya tak percaya, membuat Eunhyuk salah tingkah menunggu reaksi dari Ahra.

“Ke Jepang?” Tanya Ahra dingin. Eunhyuk menatapnya takut-takut, wajah Ahra terlihat mengeras.

Eunhyuk mengangguk.

“Berapa lama?”

“Aku tidak tahu pasti, mungkin sekitar satu minggu.”

“Satu minggu?” Ahra melebarkan matanya. Ahra kembali menahan emosinya agar tak meledak. Baru saja ia ingin meminta maaf, tapi ia kembali mengurungkan niatnya.

“Sepertinya bisnismu itu memang lebih penting dibandingkan dengan quality time yang kau janjikan pada kami,” ujar Ahra dingin kemudian meninggalkan Eunhyuk yang masih terpaku karena bingung dengan ucapan Ahra.

Kali ini ahra benar-benar kesal pada Eunhyuk. Satu bulan yang lalu ia begitu antusias menjanjikan liburan keluarga ke pulau Jeju pada Jiyeon. Gadis itu bersemangat sekali, hampir setiap hari ia menghitung hari menunggu waktu berangkat ke Jeju, senin depan. Yah seharusnya senin depan mereka berangkat, karena masa liburan Jiyeon dimulai senin depan. Tapi Eunhyuk, dengan semena-mena malah mengurusi pekerjaannya sendiri, padahal Ahra sengaja lembur akhir-akhir ini agar minggu depan ia bisa cuti dan menghabiskan waktu liburan bersama keluarga kecil mereka.

***

Eunhyuk POV

SIAL! Aku benar-benar lupa bahwa aku sudah menjanjikan liburan pada Jiyeon ke pulau Jeju. Kami bahkan sudah memboking hotel dan pesawatnya. Bagaimana bisa aku lupa? Pantas saja Ahra marah lagi. Uh, padahal kami hampir saja berbaikan. Dan perjalanan bisnis ini tidak bisa kuhentikan begitu saja.

Jiyeon masih merajuk kesal saat mereka mengantarkanku ke bandara. Aku benar-benar merasa bersalah, tapi tak ada yang bisa kulakukan. Hubunganku dengan Ahra bahkan belum membaik, dan aku malah melakukan kesalahan lagi. Lee Hyukjae Babo!

“Mianhae,” ujarku saat mencium kening Ahra sebelum benar-benar pergi.

“Urus saja pekerjaanmu dengan benar, aku akan tetap berangkat dengan mereka. Kau tahu Jiyeon sangat mengharapkan perjalanan ini,” ujarnya lirih tapi terkesan dingin. Ia masih marah.

“Aku akan menyusul kalian begitu selesai,”

Ahra tak menjawab,

“Ajaklah Kyuhyun, setidaknya ada lelaki yang menjaga kalian.”

“Dia sedang sibuk, kau pergi saja. Tidak perlu khawatirkan kami.”

Aku meninggalkan mereka, Jiyeon bahkan tak mau menatapku. Ahra membujuknya mati-matian agar tak merajuk. Tapi anak itu terlanjur marah, dan mungkin juga Ahra.

***

Kami sampai di Osaka pukul 1 siang dan melanjutkan dengan makan siang bersama dengan staff dari Kubota grup.  Ada salah satu orang yang cukup menarik perhatian kami—yang kebanyakan adalah pria—saat acara makan siang itu. Seorang gadis cantik asal jepang bernama Rio Ozawa, putri tunggal dari pemilik saham terbesar dari Kubota Grup. Aku hampir tertawa saat melihat Jin Goo dengan polosnya menganga melihat kecantikan dan kemolekan Rio. Harus kuakui gadis itu memang luar biasa.

Aku dan Jin Goo berjalan menuju hotel yang ada di lantai atas tempat kami makan siang.

“Rio Ozawa, apa menurutmu ia masih ada hubungan dengan Maria Ozawa?” candaku pada Jin Goo yang terlihat tertarik sekali dengan gadis itu. hey, aku juga tertarik tentu saja hanya saja aku masih tau diri, aku bukan lagi pria lajang, aku bahkan sudah menjadi ayah.

“Hoaaa, jinjja? Pantas saja cantik sekali,”

Aku terkikik geli melihat reaksi Jin Goo.

“Hey, ternyata kau juga suka menonton yadong?” ledekku.

“A..aniya, aku hanya tau saja,” ujarnya dengan wajah memerah, hahahaha aku senang sekali mengerjainya.

“Asyik sekali, apa yang kalian bicarakan?” aku dan Jin Goo menoleh bersamaan dan melihat seornag gadis cantik yang sedang menjadi objek pembicaraan kami itu tersenyum ke arah kami. bukan Maria Ozawa tentu saja, tapi Rio.

Aku menatapnya tak percaya, ia bahkan menggunakan bahasa kami.

“Jangan terlalu kaget Hyuk Jae-ssi. Saat SMA aku pernah mengikuti pertukaran pelajar di Negara kalian.” Ujarnya lembut. Astaga! Jadi selain cantik dan seksi, dia juga cerdas.

Kami bersama-sama memasuki lift. Aku, Jin Goo, Rio, dan sekretarisnya—atau mungkin asistennya—. Aku kembali dibuat kaget saat dia menekan tombol angka dimana kami seharusnya menekannya, lantai 16.

“Aku tinggal di sebelah kamar anda, mohon bantuannya.” Ujarnya membungkuk sopan. Whooaaaa sepertinya aku beruntung. Aku hanya membalas membungkuk sebagai tanda hormat dan  memberikan senyum termanisku.

Rio dan asistennya terlebih dahulu meninggalkan kami.

“Hey, usap dulu air liurmu, Jin Goo-ya! Hahahaha,” ujarku lagi kembali meledek Jin Goo yang terlihat benar-benar tersihir dengan Rio. Hey tidak mungkin dia tersihir dengan asisten Rio yang bahkan sudah seusia ayahku, kan?

***

Selama 4 hari berada di Osaka, aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Rio. Baik dalam urusan bisnis maupun diluar urusan bisnis. Ah lebih sering untuk urusan bisnis. Kami benar-benar sibuk selama 4 hari ini. diluar itu, Rio adalah gadis yang ramah, baik, dan cantik tentu saja.  Malam ini malam terakhir aku berada di Osaka. Besok sore seusai acara pesta peresmian kerjasama perusahaan kami dengan perusahaan Jepang aku akan bertolak ke Korea.

Aku menikmati malam terakhirku di Osaka hanya dengan berdiam diri di balkon kamarku. Menikmati keindahan lampu-lampu kota di malam hari. Jin Goo sedang jalan-jalan, katanya ingin membeli beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Korea besok.

Aku baru saja beringsut ke ranjang untuk istirahat saat ku dengar bel pintu kamarku berbunyi. Aku membuka pintuku dan mendapati Rio tengah tersenyum manis sambil memegang botol wine ditangannya. Malam ini ia terlihat cantik dan seksi dengan gaun berwarna hitam yang tampak kontras dengan kulit putihnya.

“Wine perpisahan, Hyuk Jae-ssi,” ucapnya kemudian masuk kekamarku, aku mengikutinya, kami duduk di meja dekat jendela sambil menikmati wine yang ia bawakan.

“Cepat sekali waktu berlalu, kuharap kerjasama kita berhasil,” ujarnya

“Semoga,” aku menjawabnya sambil tersenyum.

“Kau bekerja dengan baik, Nona Ozawa,” pujiku tulus.

Ia tersipu malu,

“Kau juga, Hyuk Jae-ssi,”

Kami terdiam lagi, menikmati wine masing-masing. Aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat saat kulihat Rio sedang menatapku intens.

“Kau sangat menarik, Hyuk Jae-ssi,” tuturnya lagi.

“Eh?”

“Sepertinya aku menyukaimu,” ujarnya lagi, mataku melebar untuk beberapa saat.

“Maukah kau, menghabiskan malam ini denganku?”

Otakku benar-benar beku, seorang gadis cantik dan seksi macam Rio baru saja menyatakan tertarik padaku dan bahkan ingin mneghabiskan malam denganku? Hey,  kalimat itu sangat ambigu.

Aku belum sempat menjawab apa-apa ketika kurasakan Rio mulai duduk di pangkuanku dan mulai menciumi bibirku, bukan hanya mencium ia bahkan mulai melumat bibirku. Aku membalasnya, naluriku sebagai pria menuntunku untuk membalas setiap perlakuannya.

***

Disinilah aku sekarang, sebuah  cafe yang terletak tak jauh dari hotel tempatku menginap. Aku menyesap kopi yang kupesan. Ku pejamkan mataku, mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Aku hampir saja melakukannya dengan Rio. Aku segera melepaskan pagutan kami saat aku menyadari bahwa kami sudha terlalu jauh, bayangan Ahra tiba-tiba berkelebat di kepalaku. Aku mendorong Rio yang hampir setengah telanjang. Aku meminta maaf padanya berkali dan mengatakan bahwa aku sudah mempunyai istri. Rio sama menyesalnya denganku, ia tidak tahu bahwa aku sudah mempunyai istri, kami saling canggung untuk beberapa saat sampai akhirnya aku memutuskan untuk menenangkan pikiranku di café mungil ini.

Mataku menangkap sebuah keluarga kecil—mungkin—memasuki area café, sang pria tengah menggendong putri kecil mereka yang tengah tertidur, sementara sang wanita terlihat memesan makanan. Sepertinya mereka baru pulang jalan-jalan dan mampir kesini untuk membeli makanan. Aku tiba-tiba teringat pada Ahra dan anak-anakku, Jiyeon dan Ji Hoon. Ah bukankah hari ini mereka bertolak ke Jeju? Seharusnya mereka sudah sampai. Sejak hari aku bernagkat ke Jepang, aku memnag sama sekali belum pernah menghubungi Ahra. Aku benar-benar merindukannya sekarang, aku membutuhkannya saat ini. Aku mencintai mereka melebihi apa yang kukira selama ini.

“Huijangnim, mengapa kau ada disini?” Tanya Jin Goo yang tiba-tiba ada di hadapanku.

“Kau baru kembali?” tanyaku

“Apa yang kau lakukan malam-malam disini? Bukankah kau bilang kau ingin istirahat?” tanyanya lagi.

“Jin Goo-ya,”
“Ne,”

“Pesankan aku tiket pesawat ke Jeju secepatnya. Kalau perlu penerbangan malam ini,”

“Nde? Tapi, bukankah besok masih ada acara?”

“Acara itu akan tetap berlangsung sekalipun tanpa aku, kau juga bisa mewakiliku,”

Ia terlihat bingung untuk sesaat, kemudian hanya mengangguk pasrah.

“Nde,”

***

Author POV

Pukul 4 pagi Eunhyuk tiba di hotel tempat Ahra dan anak-anaknya menginap. Mereka sudah memesan hotel itu jauh-jauh hari dan ketika Eunhyuk mengechecknya pada petugas hotel, ternyata Ahra dan anak-anak beserta Min Jung sampai kemarin sore. Jin Goo berhasil mendapatkan pesawat rute Osaka-Jeju semalam.

Eunhyuk segera menuju kamar yang ditunjukkan oleh petugas hotel. Ahra membuka pintu begitu ia tahu bahwa manusia kurang kerjaan yang mengganggu tidurnya di pagi buta seperti ini adalah Eunhyuk, melalui intercom.

Eunhyuk langsung menghambur ke pelukkan Ahra begitu melihat Wajah istrinya. Ahra hanya membalasnya dalam diam, ia juga sangat sangat merindukan lelaki itu.

“Dimana anak-anak?”Tanya Eunhyuk masih memeluk Ahra.

“Dikamar sebelah, bersama dengan Min Jung,” jawab Ahra. Eunhyuk melirik connecting door yang menghubungkan kamar mereka dengan kamar mereka saat ini sedang tertutup rapat.

“Pintunya,” lirih Ahra, membuat Eunhyuk melepas pelukan mereka dan menutup pintu kamar mereka setelah Eunhyuk masuk.

Mereka saling canggung untuk beberapa saat, Eunhyuk tersenyum melihat Ahra yang tetap terlihat cantik walau sedikit berantakan karna bangun tidur.

“I miss you,” bisik Eunhyuk sebelum akhirnya mencium bibir Ahra lembut.

“Miss you more,” balas Ahra di sela-sela ciuman mereka.

***

“Mianhae,” ucap Eunhyuk mengeratkan pelukannya pada Ahra seusai Ritual khas suami istri yang mereka lakukan pagi itu. Jam di dinding masih menunjukkan pukul setengah 6 pagi.

“Bagaimana Jiyeon?” Tanya Eunhyuk,

“Dia sudah tidak merajuk, tapi ia terlihat sedih karna kau tidak bersama kami,”

“Setidaknya pekerjaanku selesai lebih cepat dan bisa menyusul kalian kemari,”

“Gumawo,” ucap Ahra tulus. Mereka saling menatap dan tersenyum satu salama lain.

“Maafkan aku juga tentang kejadian sebelum aku berangkat ke Jepang,” Eunhyuk mengusap pipi Ahra dengan lembut. Ahra menggenggam tangan Eunhyuk.

“Aku juga minta maaf, mungkin aku yang terlalu membesar-besarkan masalah,”

“Aniya, kau benar. Aku memang salah, seharusnya aku tidak menganggumu, aku tahu kau sudah lelah bekerja dan mengurus anak-anak.”

“Aku senang melakukannya.”

“Dan tentang, eum, tentang ‘kegiatan kita’ apa akan tetap dikurangi?”

Ahra terkikik geli,” Di kurangi? Sebenarnya aku hanya ingin lebih terjadwal saja, setidaknya jangan setiap hari, tapi kalau kau tidak keberatan untuk dikurangi..”

“Aniya, aniya! Jangan! Jangan dikurangi, baiklah, tidak setiap hari.” Jawab Eunhyuk langsung membuat Ahra kembali terkikik geli.

“Kita bisa melakukannya 2-3 kali dalam seminggu, bukankah lebih baik? Lagipula, adakala saat aku begitu lelah, dan mungkin kita melakukannya tidak berkualitas,” ujar Ahra.

“Tentang beberapa hari itu kenapa aku selalu memintanya, ehm” Eunhyuk tampak malu-malu dan ragu mengungkapkan perasaannya,” sebenarnya aku…”

“Wae?”

“Berapa kali ku bilang kalau setelah melahirkan Ji Hoon kau jadi tambah seksi, aku jadi…”Eunhyuk tak melanjutkan kalimatnya, Ahra pasti sudah tahu dengan jelas maksud Eunhyuk. Ahra hanya terkikik geli.

“Cih, itu kau saja yang mesum,” ledek Ahra membuat Eunhyuk kembali tersipu,”Sebenarnya aku juga takut kalau setiap hari justru akan menjenuhkan,”lanjutnya.

“Hey, aku tidak akan jenuh kalau itu denganmu,”

“Ish, dasar perayu ulung! Sudahlah cepat mandi, sebentar lagi anak-anak bangun, mereka pasti senang melihatmu kembali,”

Bukanya beranjak, Eunhyuk malah sibuk memperhtaikan wajah Ahra lama-lama.

“Cho Ahra! Saranghae!” ujar Eunhyuk lalu mengecup singkat bibir Ahra.

“Nado,”

***

Ahra POV

Kami sudah berbaikan, tentu saja. Pagi itu Jiyeon terlihat bahagia melihat ayahnya sudah kembali. Setelah sarapan kami langsung berjalan-jalan ke pantai terdekat. Aku khawatir Eunhyuk kelelahan setelah perjalanannya dari JEpang, tapi kurasa energy pria itu sudah terlalu berlebihan. Bahkan ia masih bersemangat bermain dengan Jiyeon dan Ji Hoon.

Seperti yang kubilang, happily ever after setelah menikah hanya ada dalam dongeng, kenyataannya, masalah justru timbul setelah aku dan Eunhyuk menikah. Kami dua manusia berbeda, dengan isi kepala yang berbeda, karakter berbeda, dan terkadang pendapat berbeda. Meskipun kami juga mempunyai beberapa persamaan. Sampai sekarang aku juga tidak tahu, apakah menikah itu lebih enak dengan tingkat perbedaan yang tinggi, atau yang rendah? Atau yang proposional? Tapi bagaimanan perbedaan dan persamaan itu proposional. Entahlah, aku tak mau ambil pusing, toh aku tak berniat menikah lagi, menikah satu kali dengan satu makhluk bernama Lee Hyuk Jae saja sudah membuatku pusing. Kami memang mempunyai beberapa perbedaan, tapi menurutku menikah itu bisa berarti juga kerjasama. Aku dan Hyuk Jae memiliki beberapa perbedaan dan kami harus bekerjasama, dan sekaligus belajar bagaimana caranya berkompromi dengan pasangan. Dan aku yakin setiap pasangan memiliki caranya tersendiri untuk berkompromi satu sama lain.

END

Note : huahahahahaha eothe? Gaje kah? Banget! Ahahahaha agak serius ya? Enggak EunRa banget? Aaah, molla, saya hanya sedang rindu dengan couple ini, sementara ide saya untuk mate sedang macet. Semacet Jakarta yang sedang kena banjir. Ah, semoga saudara-saudara kita yang di Jakarta dan kota lain yang juga sednag kena banjir/musibah lain diberi kesabaran dalam menghadapi musibah. Aamin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads